Kembali ke Artikel
Menjaga Komunikasi, Merawat Karakter: Menakar Penggunaan Bahasa di Lingkungan Sekolah
Dominikus Wahyu 18 Mei 2026 22 dibaca

Menjaga Komunikasi, Merawat Karakter: Menakar Penggunaan Bahasa di Lingkungan Sekolah

PendidikanBahasa IndonesiaKarakter SiswaDunia SekolahLiterasiEtika Berbahasa

Sekolah bukan sekadar tempat untuk mengejar angka di atas kertas rapor. Lebih dari itu, ekosistem pendidikan adalah laboratorium sosial pertama bagi generasi muda. Di sinilah karakter dibentuk, dan salah satu indikator paling nyata dari karakter tersebut adalah bagaimana para siswa menggunakan bahasa sehari-hari.

Penggunaan bahasa di sekolah idealnya mencerminkan tiga fungsi utama: sebagai alat komunikasi yang efektif, sarana akademis, dan cerminan budi pekerti. Namun, realitas di lapangan sering kali menyajikan tantangan yang menarik untuk dibahas.

1. Menjaga Ranah Formal dan Informal Sekolah adalah tempat unik di mana bahasa formal dan informal hidup berdampingan. Di dalam kelas, saat berdiskusi dengan guru atau mempresentasikan tugas, penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah keharusan. Ini bukan soal kaku, melainkan latihan bagi siswa agar mampu berpikir kritis dan menyampaikan gagasan secara terstruktur.

Namun, begitu bel istirahat berbunyi, dinamika berubah. Bahasa gaul (slang) atau perpaduan bahasa daerah dan bahasa asing langsung mengambil alih lapangan sekolah. Hal ini sepenuhnya wajar sebagai bagian dari ekspresi identitas remaja dan sarana keakraban. Tantangan terbesarnya adalah mengajarkan siswa tentang konteks—tahu kapan harus menempatkan diri dan kapan harus beralih kode (code-switching) dengan tepat.

2. Isu Kesantunan: Antara Akrab dan Kebablasan Salah satu fenomena yang kerap menjadi perhatian para pendidik adalah menipisnya batas antara keakraban dan rasa hormat. Penggunaan kata-kata kasar atau umpatan yang dianggap "biasa" dalam pergaulan di luar sekolah, terkadang terbawa hingga ke dalam gerbang sekolah.

Di sinilah peran penting warga sekolah untuk saling mengingatkan. Bahasa yang santun tidak akan mengurangi keseruan berteman. Sebaliknya, pembiasaan kata-kata sederhana seperti "tolong", "terima kasih", dan "maaf" di lingkungan sekolah justru menjadi fondasi kuat dalam membentuk lingkungan belajar yang aman dan bebas dari perundungan (bullying).

3. Literasi Bahasa di Era Digital Tantangan penggunaan bahasa saat ini juga dipengaruhi oleh pola konsumsi media sosial. Singkatan-singkatan baru dan istilah viral berpindah sangat cepat dari layar ponsel ke ruang kelas. Sekolah memiliki tugas penting untuk memastikan bahwa meski siswa mengikuti tren zaman, mereka tidak kehilangan kemampuan dasar dalam membaca, menulis, dan memahami teks-teks yang lebih mendalam.

Kesimpulan Bahasa yang digunakan di sekolah adalah cermin dari masa depan bangsa. Melalui pembiasaan berbahasa yang adaptif—tahu tempat, menghargai lawan bicara, dan tetap mengutamakan kesantunan—sekolah tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga anggun dalam berwujud teks dan tutur kata.

Artikel Lainnya
22 kali dibaca