Kembali ke Artikel
Cara Mengajak Murid Menulis Puisi
Washadi 19 Mei 2026 15 dibaca

Cara Mengajak Murid Menulis Puisi

#BahasaIndonesia#SastraIndonesia#Puisi

Teknik Menemukan Kata-Kata Sendiri

Sering kali, setiap saya mengatakan bahwa hari itu kami akan belajar menulis puisi, suasana kelas hampir selalu mendadak berubah. Ada yang langsung bersandar lesu, ada yang tertawa kecil, dan ada pula yang berbisik-bisik pelan.

Selalu saja muncul kalimat-kalimat dari murid, misalnya: “Pak, saya nggak bisa bikin puisi.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan rasa takut dan tidak percaya diri. Banyak murid menganggap puisi hanya bisa ditulis oleh orang-orang yang pandai merangkai kata-kata indah.

Sejak saat itu saya menyadari bahwa tantangan terbesar dalam mengajarkan puisi bukanlah menjelaskan teori sastra, melainkan membuat murid percaya diri bahwa mereka sebenarnya mampu menulis.

Karena itu saya tidak memulai pelajaran puisi dengan teori majas atau rima. Teknik yang saya lakukan adalah saya memulai dari kehidupan murid sehari-hari.

Suatu hari saya meminta seluruh murid menutup buku lalu mengingat satu kejadian yang paling mereka ingat minggu itu. Kelas mendadak hening.

Beberapa murid menatap jendela. Ada yang tersenyum kecil seperti sedang mengingat sesuatu. Setelah beberapa menit, mereka mulai bercerita.

“Saya kehujanan waktu pulang sekolah.”

“Kucing saya mati minggu kemarin.”

“Saya senang karena ayah pulang cepat.”

Dari jawaban-jawaban sederhana itu saya melihat bahwa setiap murid sebenarnya sudah menemukan kata-kata sendiri. Kata-kata inilah yang akan dijadikan sebagai bahan yang selanjutnya akan dikembangkan menjadi puisi.

Saya kemudian menulis satu kalimat di papan tulis sebagai pemantik:

Aku pulang saat hujan.

Lalu saya bertanya, “Bagaimana supaya kalimat ini terasa lebih hidup?”

Awalnya mereka diam. Namun, perlahan muncul jawaban-jawaban menarik.

“Hujan menemani langkahku pulang.”

“Langit mengantarku pulang lewat air matanya.”

Kalimat-kalimat lain bermunculan. Kelas langsung riuh. Murid-murid mulai terbangun imajinasinya. Tidak sedikit murid yang hanya tersenyum malu.

Bagi saya, itulah saat mulai muncul percaya diri pada murid. Saya sampaikan bahwa kata-kata yang mereka ucapkan memiliki keindahan. Kata-kata yang puitis.

Teknik “Lihat – Rasa – Tulis”

Cara lain yang sering saya gunakan dalam mengajak murid menulis puisi adalah teknik “Lihat – Rasa – Tulis”. Murid diminta mengamati sesuatu di sekitar mereka, misalnya hujan, langit sore, atau kelas yang sepi. Setelah itu mereka menuliskan perasaan yang muncul: tenang, sedih, rindu, atau nyaman. Dari perasaan-perasaan itu lahirlah puisi sederhana.

Contohnya:

Hujan duduk diam di halaman sekolah sementara angin membawa rindu pulang

Saya juga sering meminta murid mendengarkan suara di sekitar mereka. Ketika hujan turun deras misalnya, saya meminta seluruh kelas diam selama satu menit.

“Apa yang kalian dengar?” tanya saya.

Serentak murid-murid menjawab. Beragam jawaban mereka, dari jawaban sederhana yang lugas sampai jawaban yang muncul dari intuisi dan kreativitas mereka.

“Suara hujan.”

“Seperti orang berlari.”

“Kayak suara seseorang nangis.”

“Suara senandung alam.”

Dari jawaban-jawaban itu, kemudian saya tugaskan agar mereka mengubahnya menjadi puisi. Saya berikan waktu beberapa menit. Hingga, mereka menyelesaikan tugasnya. Tentu saja beragam hasil kerjaan mereka. Saya meminta murid untuk menulis di papan tulis.

Sudah bisa ditebak, selalu saja muncul ketidakpercayaan pada diri mereka. Inilah PR tersendiri bagi saya untuk membangun kepercayaan diri mereka. Maka, muncullah satu per satu keberanian mereka.

Salah seorang murid maju dan menulis di papan tulis:

Hujan mengetuk jendela kelas seperti seseorang yang datang membawa kenangan

Saat puisinya dibacakan, teman-temannya langsung bertepuk tangan. Murid itu tertawa malu, tetapi wajahnya tampak bahagia. Saya mengapresiasi dan memberikan motivasi agar terbangun rasa percaya diri dan semangat untuk terus belajar dan mengasah kemampuan menulis puisi.

Saya selalu percaya bahwa puisi tidak harus rumit. Puisi yang sederhana tetapi jujur sering kali lebih menyentuh dibanding puisi yang penuh dengan kata-kata sulit. Saya pernah menemukan seorang murid menulis:

Ibu bangun paling pagi bahkan sebelum matahari siap menyala

Kalimat itu sederhana, tetapi hangat dan hidup.

Bagi saya, mengajarkan puisi sebenarnya adalah mengajarkan murid untuk lebih peka terhadap kehidupan. Puisi membantu mereka mengenali perasaan sendiri dan belajar menyampaikan apa yang sulit diucapkan.

Karena itu saya selalu percaya bahwa tidak ada murid yang benar-benar tidak bisa menulis puisi. Yang ada hanyalah murid yang belum menemukan keberanian untuk memulai.

Dan sering kali, satu larik puisi sederhana mampu menyampaikan perasaan yang tidak sanggup dijelaskan oleh banyak kalimat biasa. Inilah puisi sejati yang lahir dari ketulusan dan kejujuran.

Artikel Lainnya
15 kali dibaca